2 Pemeran Baru Tersangka Kasus Dugaan Suap Benih Lobster Serahkan Diri ke KPK

2 Pemeran Baru Tersangka Kasus Dugaan Suap Benih Lobster Serahkan Diri ke KPK

26 November 2020 Off By MISIATI

NESIATIMES.COM – Andreau Misanta Pribadi staf khusus yang menjabat sebagai Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas untuk ekspor benur dan Amiril Mukminin, menyerahkan diri ke KPK.

Keduanya merupakan tersangka kasus dugaan suap ekspor benih lobster atau benur.

Saat ini, mereka masih menjalani pemeriksaan intensif di KPK.

“Siang ini sekira pukul 12.00 kedua tersangka APM selaku staf khusus Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) yang juga bertindak selaku Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Perizinan Usaha Perikanan Budidaya Lobster pada Kementerian KP, dan AM (swasta) secara kooperatif telah menyerahkan diri dan menghadap penyidik KPK,” kata Plt Jubir KPK Ali Fikri kepada wartawan, Kamis (26/11/2020) seperti dikutip dari detikcom.

Tersangka kasus dugaan suap terkait ekspor benih lobster. (Sumber: detikcom)

Sejauh ini total tersangka dalam kasus ini berjumlah 7 orang.

Sebagai penerima:

1. Edhy Prabowo (EP) sebagai Menteri KKP;

2. Safri (SAF) sebagai Stafsus Menteri KKP;

3. Andreau Pribadi Misanta (APM) sebagai Stafsus Menteri KKP;

4. Siswadi (SWD) sebagai Pengurus PT Aero Citra Kargo (PT ACK);

5. Ainul Faqih (AF) sebagai Staf Istri Menteri KKP; dan

6. Amiril Mukminin (AM)

Sebagai pemberi:

7. Suharjito (SJT) sebagai Direktur PT Dua Putra Perkasa Pratama (PT DPPP).

Seperti diketahui, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo diduga menerima suap terkait perizinan tambak, usaha, dan/atau pengelolaan perikanan atau komoditas perairan sejenis lainnya pada 2020.

Uang dari perusahaan-perusahaan yang berminat menjadi eksportir benur pun masuk ke rekening PT ACK.

Kemudian, uang yang dikirim ke rekening PT ACK ditarik ke rekening milik Amri dan Ahmad Bachtiar.

Selain itu, pengelola dari PT ACK, Amri dan Ahmad Bahtiar merupakan calon yang Edhy Prabowo serta Yudi Surya Atmaja usulkan.

“Masing-masing dengan total Rp 9,8 miliar,” kata Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango.

Lalu diketahui uang tersebut digunakan Edhy untuk berbelanja sejumlah barang mewah, seperti jam tangan Rolex, tas Tumi dan LV, dan baju Old Navy di Honolulu, Amerika Serikat.

Saat ini, Edhy dijerat dengan Pasal 12 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

(MEL/MIS)

186 0 906 COPYRIGHT@2017-2021 NESIATIMES.COM | MENRA GROUP