Akulah Tata Kecil Itu

Akulah Tata Kecil Itu

Oktober 13, 2018 0 By admin nesiatimes.com
SHARE BERITA INI:
375

Tata menurunkan daun ubi hasil petikannya di samping rumah. Dengan buru-buru dia berlari ke sumur di belakang rumah, mencuci kaki serta tangannya di sana. Setelah itu dia memasuki rumah kecilnya yang beratapkan daun rumbia dan berlantaikan tanah. Yang pertama dilakukannya adalah mendekati ranjang mamanya, menyibakkan kelambu tua yang sudah banyak sobeknya.

“Ma, gimana kesehatan mama?”tanya gadis kecil itu dengan nada khawatir. Disentuhnya tangan wanita kurus tirus yang sedang berbaring di ranjang. Ina harry itulah sebutan wanita itu, diambil dari nama anak sulungnya “harry”.

Ina harry membuka matanya pelan, tampak matanya begitu cekung dan menghitam.

“Mama sudah agak baik. Sebaiknya kamu segera bersiap-siap, nanti terlambat sekolah.”ucap Ina harry lirih. Tata tahu jika mamanya berbohong, jelas sekali jika penyakit mamanya semakin parah. Kondisi ekonomi membuat mamanya tidak bisa dibawa ke Rumah sakit, minggu lalu bidan desa sudah dipanggil tapi hasilnya nihil. Maklumlah di desa mereka hanya ada puskesmas, itupun sudah semakin tidak aktif. Rumah sakit sangat jauh ke kota dan butuh biaya besar untuk kesana.

memikirkan kondisi mamanya benar-benar menghadirkan pedih yang dalam di hati Tata, hampir setiap malam dia berdoa dan menangis untuk mamanya. Abangnya tidak peduli dengan keadaan mereka, dia jarang sekali di rumah. Sedangkan bapaknya meninggal 2 tahun lalu.

“Ta, bersiap-siaplah. Hari ini kamu akan mengikuti lomba kan? Jadi jangan terlambat”tegur Ina Harry membuyarkan lamunan Tata. Gadis kelas 6 SD itupun beringsut dari ranjang mamanya, dia turun ke dapur untuk memanaskan bubur untuk mamanya. Bulir-bulir air mata jatuh menggelinding di kedua pipinya, berusaha ditahannya sesak yang menghantam dadanya.

Satu demi satu kayu bakar disusunnya di perapian dan sebuah periuk kecil berisikan bubur diletakkanya ke atas perapian yang sudah menyala.

Berkali-kali disekanya air mata dan ingusnya dengan ujung baju ladangnya, ingin rasanya dia memarahi Tuhan. Setidaknya Tuhan mesti menolong mereka dengan memberi uang agar mama bisa dibawa ke rumah sakit, tapi yang ada keadaan mereka malah semakin sulit.

Ditengah-tengah perasaannya yang berkecamuk, Tata teringat akan lomba yang akan di ikutinya nanti sore. lomba pidato tingkat kabupaten yang berhadiahkan jutaan rupiah. Tiba-tiba dia memiliki harapan baru, wajahnya menjadi lebih ceria. Dengan lebih semangat diselesaikannya pekerjaannya. Setelah menyuapi mamanya, dia mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.

“Ma, tata mau berangkat sekolah. Mama baik-baik disini, jangan memaksakan diri untuk turun. Sekali-kali jangan. Mama doain agar lomba yang akan Tata ikuti berjalan dengan baik, doakan juga Tata menang. Kalau Tata menang maka kita dapat uang untuk membawa mama ke rumah sakit.”Kata Tata sambil menggenggam erat tangan Ina Harry. Mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca, Sungguh anugerah besar dia bisa memiliki anak seperti Tata.

“Iya, mama akan jaga diri. Mama juga pasti doain tata, pasti dan selalu.”ucap wanita itu dengan suara bergetar.

Entah kenapa Tata merasa perasaannya sangat sakit, ada sendu yang dalam di hatinya. Gadis kecil itu mencium pipi mamanya cukup lama, memeluknya lalu memandangi wajahnya dengan penuh kasih sayang. Dia merasa agak aneh dengan hari ini, tidak biasanya dia memiliki suasana hati seperti ini.

“Hari ini Tata agak lama pulang ma, tapi Tata usahakan pulang sebelum jam 7 malam”.

“Iya, tidak apa-apa. Pesan mama, ikutilah lomba itu dengan baik. Kamu pasti memenangkannya, banggakan mama hari ini. Apapun yang terjadi jangan pernah menyerah, kamu sudah ditakdirkan untuk menjadi pemenang. Jangan sampai dunia menyembunyikan takdirmu ini anakku. Mama bahagia memilikimu, terimakasih Ta. Sekarang berangkatlah, maafkan mama tidak bisa menemani”. Tata tidak bisa membedung air matanya, dia mengangguk pasti lalu mencium punggung tangan wanita yang sangat dicintainya itu.

***

Tata berlari dengan kencang, tak dipedulikannya perutnya yang keroncongan, tak dipedulikannya rasa lelah yang menggerogoti tulang-tulangnya. Keringatnya mengalir deras di wajahnya, nafasnya sudah tersengal-sengal. Yah, dia harus segera mencapai sekolah. Jika tidak maka dia akan terlambat ke Kabupaten untuk mengikuti lomba. Pasti saat ini guru-guru sedang menunggunya.

Jarak rumahnya dengan sekolah sekitar 2 km dan sudah biasa dilaluinya dengan jalan kaki.

Beberapa kali dia tersandung dan akibatnya adalah nyeri di kedua ujung kakinya. Dia tidak peduli, dia terus berlari.

“Sedikit lagi, yah sedikit lagi”ucapnya dengan nafas satu-satu.

“Itu dia, Tata datang!”Teriak beberapa siswa. Tata mendekati mobil yang di ongkos oleh pihak sekolahnya, tak ada satupun gurunya yang memiliki mobil jadi karena itulah mereka mengongkosnya.

“Wah untung kamu segera datang ta, kalau tidak terlambatlah kita”ucap salah seorang guru. Dia dan dua guru yang menemaninya masuk ke mobil. Mobil itupun melaju di iringi dengan lambaian tangan dari warga sekolah.

***

Ketika mereka sampai, lomba sudah cukup lama dimulai. Meski demikian Tata dan gurunya tidak khawatir, karena Tata merupakan peserta terakhir.

Sekitar setengah jam berlalu tiba-tiba pembawa acara meneriakkan nama “Tata”. Dengan tegang, Tata melirik pak Adit dan Bu Asri. Mereka mengangguk padanya, dengan gemetar Tata berjalan diantara ratusan orang menuju ke atas podium. Beberapa orang menatapnya heran karena dia datang tidak dari kursi peserta.

Tata diam sejenak, menunggu semua penonton diam. Setelah suasana menjadi hening, diapun mulai berbicara. Menyapa, memperkenalkan dirinya serta asal sekolah kemudian memulai pidatonya. Tema lomba pidato yang di ikutinya ialah Pendidikan dengan judul yang ditentukan sendiri oleh para peserta. Dengan berapi-api, Tata menyampaikan pidatonya yang berjudul Menemukan Mutiara-Mutiara terpendam di Sekolah.

Penyampaiannya yang begitu lantang, jelas dan menarik membuat semua orang di ruangan itu tertegun. Gadis kecil itu mengupas tentang anak-anak pedalaman yang memiliki kreatifitas tinggi tetapi dibatasi oleh kondisi ekonomi, dia juga menyampaikan apa yang harus dilakukan oleh pihak pemerintah dan para pendidik untuk menangangi masalah itu.

Di belakang sana, diantara para penonton. Tampak mata bu Asri berkaca-kaca mendengar setiap kalimat yang keluar dari bibir murid kebanggaannya itu, dia tidak menyangka Tata bisa membuat pidato sedemikian rupa. Sedangkan pak Adit yang baru saja muncul entah dari mana langsung duduk disampingnya lalu membisiki sesuatu. Wajah bu Asri memucat mendengar bisikan pak Adit, matanya yang tadi berkaca-kaca kini mengalirkan air mata sungguhan. Kedua guru itu memandang podium sana, mendengar Tata mengucapkan kalimat penutupnya yang kemudian disambut tepuk tangan meriah dari penonton. Para juri bahkan berdiri, kemudian diikuti oleh orang-orang yang barusan mendengar pidatonya. Tata turun dari podium dengan tubuh gemetar, air matanya mengalir membasahi kedua pipinya. Dia disambut dengan pelukan oleh bu Asri.

***

Tata berdiri sebagai juara pertama dengan hadiah 15 juta, dia sangat bahagia ketika menerima penghargaan itu langsung dari Bupati. Tapi semuanya berubah ketika bapak Bupati menyampaikan kalimat yang membuat dunia Tata langsung gelap.

“Untuk Tata, secara pribadi saya mengucapkan terimakasih atas pidatomu yang berhasil mengubah beberapa paradigma saya yang salah selama ini. selaku bupati disini, saya sangat bangga denganmu. Kelak kamu akan menjadi seorang pembicara besar yang mengubah banyak wajah dunia. Pasti, tidak diragukan lagi. Saya sudah mendengar semua tentangmu, perjuanganmu selama di pendidikan apalagi dalam keluarga benar-benar membuat saya tertegun, kamu luarbiasa nak”. Pak Bupati itu berhenti sejenak berbicara karena tepuk tangan yang membahana menelan suaranya.

“Dan dikesempatan ini bapak mewakili seluruh kabupaten Nias ini mengucapkan turut untuk berbelasungkawa atas wafatnya Bu Harry, ibundamu. Semoga kamu tabah dan kuat, Yang Maha Kuasa menyertaimu nak…….”. Tata sudah tidak mendengar lagi apa yang dikatakan oleh Bupatinya itu, dia langsung terjatuh dan histeris sebelum akhirnya pingsan.

***

Tata menatap wajah mamanya, dia tidak yakin jika wanita yang satu-satunya dia miliki itu telah tiada. Di genggamnya erat tangan mamanya, dingin dan kaku. Air matanya kembali mengalir, menjadi satu dengan ingusnya.

Tenggorakan Tata tidak dapat menghasilkan suara lagi, sudah terlalu banyak jeritan yang dia keluarkan dari tadi. Terlintas kejadian tadi siang, dimana ketika dia menyuapi mamanya untuk terakhir kali. Terlintas kejadian selama ini dimana sang mama menahan sakit, berusaha untuk bekerja untuk menghidupi mereka. Kata-kata terakhir mamanya kembali terngiang “Iya, tidak apa-apa. Pesan mama, ikutilah lomba itu dengan baik. Kamu pasti memenangkannya, banggakan mama hari ini. Apapun yang terjadi jangan pernah menyerah, kamu sudah ditakdirkan untuk menjadi pemenang. Jangan sampai dunia menyembunyikan takdirmu ini anakku. Mama bahagia memilikimu, terimakasih Ta. Sekarang berangkatlah, maafkan mama tidak bisa menemani”.

Tata mengelus pipi kurus Ina Harry lalu mendekat dan mengecup lama pipi itu.

“Aku sudah mengikuti lombanya ma, aku menang, aku membagakan mama, aku tidak akan pernah menyerah, aku akan selalu menjadi pemenang, dunia tidak akan dapat menyembunyikan takdirku. Aku juga bahagia memiliki mama, sangat bahagia, benar-benar bahagia. Terimakasih ma, aku sangat mencintai mama. Baik-baik disana ma, kelak kita akan bersama dan akan selalu bersama”bisik Tata di telinga mamanya. Air matanya semakin banyak jatuh, seulas senyum simpul terukir di bibir kecilnya.

***

10 tahun kemudian

Wanita muda itu memandang seluruh wajah-wajah yang menunggunya berbicara. Sekarang dia berada di sekolah lamanya, sekolah yang dulu membawanya kesebuah lomba pidato tingkat kabupaten.

Ah, sekolah ini sudah begitu maju. Tata tersenyum ceria lalu meraih mikrofon untuk mulai berbicara.

“Akulah Tata kecil itu, yang berperang melawan badai. Akulah Tata kecil itu yang jatuh bangun diatas kerikil-kerikil tajam. Akulah Tata kecil itu yang memiliki sejuta mimpi untuk diraih. Akulah Tata kecil itu yang sangat mencintai seorang wanita sejak kecil. Akulah Tata kecil itu yang ditakdirkan untuk menjadi pemenang. Dunia tak bisa menyembunyikan takdirku, karena apa yang telah dianugrahkan Pencipta kepadaku tak ada yang dapat merebutnya dariku. Akulah Tata kecil itu yang telah ditemukan dan ditangkap oleh Sang Pencipta. Kini aku berdiri disini membuktikan bahwa kita semua memiliki kemampuan, keistimewaan, anugrah, dan takdir”.

 

—Ditulis Oleh : Ar—