Belajar “Toleransi Beragama” Dari Kampung Sawah

Belajar “Toleransi Beragama” Dari Kampung Sawah

Juli 22, 2019 0 By Petrus C. Vianney
SHARE BERITA INI:
407

NESIATIMES.COM, – Kampung sawah yang terletak di Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat ini memiliki nilai historis yang tinggi, serta terlatih sejak dini hidup dalam perbedaan agama satu sama lain. Wujud nyata demokrasi dan pancasila hadir dalam kebersamaan yang terbangun di tempat ini.

Jepretan Bapak Djacob saat dimintai keterangan ( Sumber : Detik.com )

” Kalau ditanya mulai kapan kehidupan toleran di Kampung Sawah itu ada? Saya sendiri tidak tahu persis kapan itu terjadi. Yang pasti sebelum saya atau bahkan sebelum kakek saya lahir, model kehidupan yang toleran di Kampung Sawah sudah ada”, ucap Jacob seraya memberikan keterangan pada Kamis (20/6)

Di Kampung Sawah berdiri dua Gereja besar yaitu Gereja Kristen Pasundan (GKP) dan Gereja Katolik Santo Servatius, tidak jauh dari gereja yang saling berdekatan itu berdirilah Masjid Agung Al- Jauhar milik Pondok Pesantren Yasfi. Letak ketiganya memang saling berdekatan solah membentuk segitiga yang kerap kali disebut dengan nama “Segitiga Emas”. Di Kampung Sawah memang ada suatu keadaan dimana dalam satu keluarga ada yang saling berbeda keyakinan, semisal suaminya beragama Katolik, sedangkan istrinya beragama Islam, atau sebaliknya. Itu terjadi satu sama lain oleh ikatan perkawinan.

Pada saat pernikahan mereka menikah secara Islam atau Katolik. Dalam kurun waktu perjalanan berkeluarga, mereka sepakat untuk kembali kepada keyakinan awal mereka masing- masing. Mereka menjalankan kewajiban agama mereka masing- masing dengan baik tanpa ada tekanan dari pihak lain. Itu juga menjadi bukti bahwa ” Ikatan keluarga lebih kuat daripada ikatan agama ”

“Jika masyrakat di tempat lain melihat tradisi ini baik, ya silahkan saja diadopsi. Kalau diperlukan kami akan siap membantu memfasilitasi. Tapi ya seperti yang saya katakan tadi bahwa merawat toleransi tidaklah mudah. Kenapa? Karena Kampung Sawah itu masyarakatnya heterogen, tidak seperti di tempat- tempat lain, jadi tidak mudah mengelola wilayah yang heterogensi nya tinggi”, Kata Jacob sembari menceritakan keadaan di Kampung Sawah.

Pesan Jacob yakni melalui berbagai bentuk manapun sarana sosialisasi yang digaungkan oleh masyarakat Kampung Sawah, semoga semakin banyak kelompok milenial yang tertarik untuk melestarikan warisan leluhur kami yakni ” toleransi “. Bahkan ia juga berpesan bahwa siapa saja yang datang dan tinggal di Kampung Sawah . Ia harus menjadi bagian dari tradisi warga  Kampung Sawah untuk ikut memelihara persaudaraan serta kerukunan hidup di Kampung Sawah

Kendati pun terlalu kecil untuk di pertaruhkan sebagi suatu bangsa melalui ” toleransi “, Kampung Sawah siap untuk menjadi garda terdepan untuk menyuarakan persatuan dan kesatuan demi terciptanya masyarakat yang madani serta bertoleransi tinggi

 

PENULIS : PETRUS C. VIANNEY

EDITOR : EFG

SUMBER : R. Jacob Napiun