BI Ungkap Alasan Tak Boleh Pakai Dinar-Dirham Sebagai Alat Pembayaran, Oh Ternyata

BI Ungkap Alasan Tak Boleh Pakai Dinar-Dirham Sebagai Alat Pembayaran, Oh Ternyata

7 Februari 2021 Off By Redaksi

NESIATIMES.COM — Penyalahgunaan dinar dan dirham di Depok, Jawa Barat viral di media sosial.

Penggunaan mata uang asing ini terekspos di sejumlah pasar bernama Pasar Muamalah.

Menanggapi hal tersebut, Bank Indonesia (BI) mengungkapkan alasan tidak boleh menggunakan dinar dan dirham sebagai alat transaksi pembayaran di tanah air.

Menurut Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, alat pembayaran yang sah di Indonesia hanyalah rupiah.

Hal tersebut sesuai dengan ketentuan di Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.

Dalam beleid itu jelas tertulis bahwa mata uang yang negara keluarkan hanyalah rupiah, sehingga menjadi alat pembayaran yang sah di masyarakat.

“Kami menegaskan bahwa dinar, dirham atau bentuk-bentuk lainnya selain uang rupiah bukan merupakan alat pembayaran yang sah di wilayah NKRI,” kata Erwin dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (4/2/2021).

Kemudian, pembayaran menggunakan rupiah juga jauh lebih aman karena negara sediri telah mengakuinya sebagai alat pembayaran.

Oleh karena itu bank sentral nasional mengimbau masyarakat hanya bertransaksi menggunakan alat pembayaran yang sah.

BACA JUGA:  Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto Mutasi 43 Pati, Ini Daftar Lengkapnya

Sementara itu, Zaim Saidi, tersangka pencetus transaksi menggunakan dinar dan dirham telah ditangkap pihak Kepolisian.

Tak hanya mencetuskan, menurut kepolisian Zaim mengambil untung sebesar 2,5 persen dari harga pembuatan koin.

Koin tersebut merupakan hasil penukaran rupiah menjadi dinar dan dirham.

(Leo/Ana)