Guru Harus Kreatif dan Inovatif

Guru Harus Kreatif dan Inovatif

September 17, 2020 Off By Redaksi

NESIATIMES.COM-Pandemi covid-19 terus mengalami peningkatan setiap saat. Hingga Rabu (16/9/2020) tercatat sudah 228.993 yang dinyatakan positif, 164.101 sembuh, dan 9.100 meninggal dunia. Kemungkinan bertambahnya jumlah yang positif akan terbuka lebar apabila masyarakat tidak tertib dan tidak mematuhi protokol kesehatan.


Dampak yang diakibatkan oleh virus corona ini luar biasa. Dalam bidang pendidikan, para guru, siswa dan orang tua banyak yang sudah pusing dengan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ). Banyak guru yang mengalami kebingungan dan membutuhkan penyesuaian yang tepat dengan sistem pembelajaran di masa pandemi ini.


Salah seorang guru social studies di Unity School-Bekasi, Yulita Hety Sujaya menanggapi model pembelajaran jarak jauh ini sebagai upaya untuk meningkatkan semangat kreativitas dan inovasi khususnya bagi para guru.


“Semenjak pertengahan bulan Maret, kami sudah melaksanakan pembelajaran jarak jauh, sesuai instruksi dari Pak Nadiem. Tentu ada perbedaan yang sangat mendasar antara pembelajaran tatap muka di kelas dengan tatap muka melalui media teknologi seperti HP dan laptop. Tetapi bagi saya, efek pandemi terhadap model pembelajaran justru membuat saya lebih kreatif dan inovatif dalam menyajikan dan menjelaskan materi kepada anak-anak,” ungkapnya.


Guru sebagai aktor utama harus mampu memberikan stimulus untuk membangkitkan semangat para siswa dalam belajar. Apalagi ketika harus berhadapan dengan situasi seperti sekarang ini. Kecerdasan seorang guru tidak hanya pada saat menyampaikan materi saja, tetapi juga menyiapkan permainan-permainan yang menarik untuk memotivasi para siswa.


“Suatu keharusan bagi guru untuk bisa membuat para siswa tertarik dan senang mengikuti pelajaran. Cara yang lakukan sebelum memulai pelajaran adalah menyapa siswa dengan senyum yang penuh ceria serta membuat permainan singkat. Cara-cara sederhana ini sangatlah penting sebagai penyemangat dalam proses pembelajaran,” tutur alumni Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini.


Meski demikian, lanjut Hety, proses pembelajaran jarak jauh tetap memiliki kelemahan. Waktu yang terlalu lama di depan layar laptop dan gadget justru berdampak pada kesehatan mata. Di samping itu, banyak anak-anak yang merasa lelah karena seharian berada di depan layar laptop dan gadget untuk menerima pengetahuan dari berbagai macam mata pelajaran.


“Saya merasakan betul dampak dari pembelajaran jarak jauh terutama pada kesehatan mata. Waktu yang terlalu lama di depan laptop membuat mata saya merasa sakit. Tidak hanya mata, anggoa badan yang lain juga ikut merasakan sakit akibat duduk terus. Ini berbeda ketika pembelajaran berlangsung di dalam kelas, gerak atau mobilitas sangat leluasa. Harapan saya semoga pandemi ini cepat berlalu supaya bisa kembali ke situasi normal. Bertemu dengan anak-anak di sekolah, setelah sekian lama hanya bisa menatap dan bersapa di layar laptop,” tutup magister pendidikan IPS ini.

242 076 COPYRIGHT@2020 - NESIATIMES.COM | MENRA GROUP