Ideologi dan Pentingnya Tindakan Pro Lingkungan

Ideologi dan Pentingnya Tindakan Pro Lingkungan

September 22, 2018 0 By admin nesiatimes.com
SHARE BERITA INI:
409

Oleh : Efrem Gaho, S.Sos

Staf Pengajar Ilmu Geografi SMA Permata Indah Jakarta dan Pendiri Komunitas Hidup Bersosial Indonesia (KHBI)

NESIATIMES.COM – KETIKA memotret tentang lingkungan, maka kita akan banyak berhubungan dengan sistem alam / ekologi, sosial, ekonomi, dan bahkan politik sekalipun. Semua saling berkaitan, dan tak jarang terpisahkan. Akibatnya konstruksi nilai lingkungan banyak diwarnai oleh sistem lain sehingga membuat banyak perubahan besar akan lingkungan itu sendiri. Konstruksi lingkungan ini menciptakan sistem yang mendominasi seperti sistem politik. Oleh karena dominasi ini, juga melahirkan 2 kubu antara kubu yang pro (non-kontroversial) dan kubu yang kontra (kontroversial).

Walaupun kita dalam satu ideologi, tetapi tidak selalu satu arah untuk melakukan banyak hal. Begitu juga dalam perusahaan yang menamakan dirinya sebagai perusahaan pencari untung atau perusahaan yang bergerak di bidang sosial (non-profit) namun tidak semua perusahaan tersebut selalu berlaku baik. Banyak perusahaan yang justru melakukan praktek-praktek lain, sehingga menciptakan degradasi bagi lingkungan.

Tanggung jawab sosial perusahaan dalam menciptakan lingkungan yang bebas bencana, sangat penting demi keberlangsungan hidup perusahaan dan lingkungan dimana perusahaan berada. Perusahaan yang memenuhi tanggung jawab sosialnya bagi lingkungan cenderung akan memiliki napas yang panjang, dibandingkan perusahaan yang hanya mencari untung semata. Akan tetapi perusahaan yang memenuhi tanggung jawab sosialnya mesti memperhatikan aspek lain dalam lingkungan seperti alam, ekonomi, politik dan lain sebagainya. Hal ini perlu agar munculnya keseimbangan bukan ketimpangan. Namun, terkadang semua hanya sekadar wacana semata.

Nola Burh dalam makalahnya tentang “Ideology, the environment and one worldview : A discourse analysis of Noranda’s environmental and sustainable development reports” menjelaskan bahwa berdasarkan analisis wacana terhadap perusahaan Noranda, maka disebutkan Noranda merupakan perusahaan yang memberikan kontribusi besar bagi dunia terutama dalam menciptakan perubahan sosial.

Aspek yang diangkat oleh Nola Burh dalam melihat laporan perusahaan Noranda adalah hubungan perusahaan Noranda sendiri dengan alam masyarakat. Hubungan ini dilihat untuk mengindentifikasi prospek perubahan sosial yang diciptakan oleh perusahaan.

Seiring dengan penjelasan di atas, Elkington (1997, 2004) menjelaskan transformasi lingkungan dengan menekankan pada dampak lingkungan. Menurutnya, dampak lingkungan yang negatif harus dikurangi, terutama karena praktek perusahaan. Selain itu, ditambahkan oleh Eder (1996) menjelaskan bahwa ada 3 fase terkait lingkungan yakni fase ketidakcocokan ekologi dan ekonomi ditandai dengan munculnya masalah lingkungan. Fase kedua, regulasi didominasi aksi wacana dan lingkungan, dan fase ketiga normalisasi budaya keperhatinan terhadap lingkungan beserta integrasi oleh pemikiran ideologis.

Lebih lanjut, Eder berpendapat bahwa wacana tentang lingkungan pada tahun 1980-an merupakan wacana yang banyak menuai protes sehingga menempatkan lingkungan sebagai agenda. Berbagai macam sudut pandang yang bermunculan, yang menjadikan wacana lingkungan berubah menjadi wacana politik di ruang publik. Disisi lain, semua ini membawa perubahan pada budaya politik masyarakat yang lebih modern.

Loading...

Jika kita mengulas lebih jauh kebelakang, secara jelas mengatakan bahwa kajian filsafat lingkungan terdapat dua pendekatan yang dilihat yakni pendekatan tradisional dan pendekatan non-tradisional / holistic (ekologi dan ecofeminism). Selain itu, Gray (1996) mencoba mengklasifikasikan 7 (tujuh) cara melihat hubungan yang terjadi di dalam satu kelompok berbeda dengan mempertimbangkan relasinya pada masyarakat dan perusahaan.

  1. Kapitalis murni – Padangan yang dominan pada keuangan, dimana tanggung jawab sebuah perusahaan adalah menghasilkan untung bagi pemegang saham;
  2. Expedients– Pandangan jangka panjang ini menyadari bahwa kesejahteran ekonomi dan stabilitas sosial hanya dapat dipertahankan dengan menerima tanggung jawab sosial;
  3. Pendukung kontrak sosial – Setiap sikap perusahaan atau organisasi harus memiliki tanggung jawab sosial bagi masyarakat dan merespon setiap keluhan masyarakat;
  4. Ekologi sosial – Memiliki rasa kepedulian terhadap lingkungan sosial dan sadar bahwa pengaruh besar dalam masyarakat ketika adanya masalah sosial dan lingkungan dan penyelesaiannya;
  5. Sosialis – Paham ini merasa bahwa harus ada adaptasi;
  6. Feminis radikal – Paham ini merasa bahwa segala sesuatu merupakan hasil konstruksi gender (maskulin)  yang berperan menguasai sistem beserta nilai-nilai feminim seperti kasih, cinta, kerjasama dan lain sebagainya;
  7. Deep ecologist– Manusia tidak memiliki kuasa besar dalam eksistensi lain dari kehidupan ini.

Beberapa temuan di atas ingin menggambarkan metode melihat lingkungan dari berbagai sisi / ideologi, dan pandangan-pandangan kekinian dunia terhadap lingkungan. Misalnya, sikap dari kapitalis murni sebenarnya mengacu pada persaingan yang tujuannya untuk menguntungkan diri sendiri. Beriringan dengan hal ini, padangan hak sebagaimana disebutkan dalam liberal encironmentalism mengatakan bahwa pemerintah membuat suatu kebijakan yang menghubungkan antara kerusakan lingkungan dengan sistem produksi dan konsumsi (Clark, 1998 : 349)

Dari sisi kebijakan, melihat kerusakan lingkungan memang tidak pernah terlepas dari sistem produksi kaum kapitalis dan sistem konsumsi oleh masyarakat luas. Oleh karenanya, pemerintah selaku pembuat kebijakan harus memberi sanksi tegas kepada mereka yang merusak lingkungan dengan cara apapun.

Lalu bagaimana dengan komunikasi perusahaan Norlanda dan wacananya?

Perusahaan sekarang ini keberhasilannya tergantung pada profil sosial mereka, reputasi, serta kepercayaan para investor. Dalam perusahaan Norlanda, memiliki kebijakan lingkungan seperti keseimbangan antara aspek sosial, ekonomi serta lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Pada tahun 2004, perusahaan Norlanda menerapkan kebijakan pembangunan berkelanjutan antara lain menjadikan perusahaan sebagai leader, mencapai hasil yang maksimal, mengaplikasikan sistem manajemen, mempertimbangkan isu sosial, membuka ruang dialog bagi komunitas, mempromosikan produknya, membangun ilmu pengetahuan dan teknologi, memastikan aktivitas perusahaan sudah sesuai etika, serta meciptakan kepekaan sosial karyawan. Perusahaan Norlanda menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan merupakan wacana besar sehingga akan dapat menjadi pusat dialog masyarakat banyak. Oleh karena itu, wacana pembangunan berkelanjutan mesti diteruskan bagi perusahaan lain yang belum berdaptasi bagi lingkungan sekitar. Perusahaan Norlanda merupakan salah satu contoh perusahaan yang pro lingkungan agar terbebas dari bencana, umur perusahaan semacam ini akan berakhir lama.

 

Loading...