Lagi Viral! Aksi Brutal Siswa di Malang, Jari Korban Diamputasi, Kepsek Dipecat

Lagi Viral! Aksi Brutal Siswa di Malang, Jari Korban Diamputasi, Kepsek Dipecat

Februari 12, 2020 0 By MAX ALVIAN
SHARE BERITA INI:
823 šŸ“¶

MALANG – Terlalu. Sikap aksi kekerasan di sekolah apapun motifnya harus ditindak tegas. Bullying menjadi tindakan yang tak bisa ditolerir lagi. Untuk pimpinan sekolah harus diberi peringatan keras karena nampaknya membiarkan kasus ini atau menganggapnya hal yang lumrah. Anak-anak makin berani beraksi kalau sekolah melakukan pembiaran terhadap kasus perundungan atau perisakan atau bullying.

Mulai dari bullying secara verbal sampai fisik tetap sama berbahaya dan beresikonya. Kalau pimpinan sekolah membiarkan maka hasilnya akan muncul anak-anak yang berulah brutal dan kejam ini.

Sikap tegas Wali Kota Malang Sutiaji dalam menghadapi kasus bullying siswa di sekolah yang ada di wilayahnya patut ditiru. Dia tak segan memecat kepala sekolah menengah pertama negeri (SMPN) 16 Kota Malang, Syamsul Arifin. Pemecatan itu merupakan imbas dari kasus perisakan yang menimpa salah satu siswa di sekolah itu. MS (13).

Diketahui, MS diduga dibully 7 temannya di sekolah dengan kekerasan. Hingga luka lebam dan berujung amputasi pada 2 ruas jari tengah tangan kanan. Hasil aksi kekerasan yang beramai-ramai ya begini.

“Diangkat beramai-ramai begitu. Terus dibanting ke paving dalam kondisi terlentang,” kata Kapolresta Malang Kota Kombes Leonardus Simarmata

Loading...

Kejam banget. bercanda kok sampai setega itu melempar manusia seperti melempar barang atau binatang. Pengakuan para pelaku mereka melakukannya atas dasar bercanda dan melakukannya saat waktu istirahat.

BACA JUGA:  Korban Penggusuran: Kami Semua Pendukung Anies, tapi Kenapa Digusur?

Kalau melihat bagaimana mereka melemparkan ke paving dan ke pohon itu jelas bukan bercanda. Sikap dan aksi serta tindakan ini pasti dilakukan dengan motif kesengajaan.

Saat dilakukan observasi oleh tim dokter Rumah Sakit Umum Lavalette Kota Malang, tempat MS dirawat, jari tengah korban mengalami luka lebam yang cukup parah. Sehingga mengharuskan untuk diamputasi.

Parahnya, pihak sekolah awalnya menyebut kasus ini hanya guyonan. Inilah suatu kelalaian besar dan sikap meremehkan aksi bullying yang dianggap sebagai bagian dari budaya bercanda. Salah kaprah menganggap bercandaan ini jelas adalah kesalahan yang fatal.

Bisa jadi pengakuan siswa yakni para pelaku yang ngeles dengan motif bercanda membuat pimpinan sekolah tak berbuat apa-apa lagi atau menindaklanjuti kasus ini. Parah banget aksi pimpinan sekolah yang tak tegas dan tanpa empati serta peduli dengan siswanya yang menjadi korban.

Siwa korban bullying itu butuh perhatian dan penanganan yang serius. Membiarkan kekerasan di sekolah sama saja membiarkan benih-benih premanisme dan kebrutalan serrta ketidakberadaban itu makin menjadi-jadi. Sayang pimpinan sekolah berikut guru sering kurang peka dengan hal ini.

Sikap Wali kota Malang ini menjadi peringatan keras buat para pimpinan sekolah dimanapun untuk tak main-main dan tutup mata dengan aksi bullying di sekolah atau di kompleks sekolahnya.

“Tidak usah menunggu waktu. Sekarang sudah ditarik. Kepala sekolah sudah ditarik begitu juga dengan waka (wakil kepala sekolah),” kata Sutiaji di Balai Kota Malang, Senin (10/2/2020).

Kepala dan wakil kepala sekolah dinilai ikut berkontribusi alias turut lalai dalam kasus ini. Dasar pemecatan itu mengacu PP Nomor 53 Tahun 2015 tentang Disiplin Pegawai dan Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan.

BACA JUGA:  Kasdam IV: Dusun Porot Model Kampung Toleransi Beragama
Loading...

“Di sana sudah diatur secara khusus ada pelanggaran ringan, ada pelanggaran sedang, ada pelanggaran berat. Dan kepala sekolah sudah ditarik, sudah dibebastugaskan, termasuk wakilnya,” jelasnya.

Pemerintah Kota Malang juga mempertimbangkan memberikan sanksi kepada para guru yang diduga terkait dengan kasus perisakan itu. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayan Kota Malang Zubaidah juga mendapatkan peringatan. Zubaidah dinilai mengeluarkan pernyataan tak sesuai dengan kejadian perisakan.

“Kepala dinas sudah kami lakukan peringatan. Sudah kami beri batas waktu. Pelanggaran kepala dinas itu hanya ceroboh membuat statement. Karena informasi yang didapat dari sekolah tidak dianalisa terus membuat statement itu,” kata Sutiaji.

Baguslah, sikap pemerintah Kota Malang itu patut diapresiasi. Jangan biarkan celah kekerasan itu muncul di sekolah. Aksi anak-anak pelajar ini sudah kelewat batas.

Sekolah harus menjadi tempat aman bagi siswa untuk belajar dan bermain. Penanganan secara medis bisa cepat dilakukan tapi [emulihan secara mental tak akan mudah. Kabarnya siswa yang menjadi korban akan ditangani psikolog. Butuh pemulihan panjang dan dukungan pihak sekolah agar korban tak akan menjadi koban bullying di masa mendatang.

BACA JUGA:  Viral! Curhatan Wanita Alami Body Shaming Oleh Mantan Pacarnya Sendiri

Akhirnya muncul petisi yang menuntut keadilan untuk korban. Petisi tersebut dibuat di laman Change.org oleh Vyan Muhammad dengan judul

“Keadilan untuk Ariel Korban Pembully-an di salah satu SMPN di Kota Malang”.

Petisi tersebut menuntut Wali Kota Malang Sutiaji memberikan keadilan kepada MS. Mereka mengajak warga Malang untuk mengawal kasus ini sampai tuntas.

“Bayangkan jika kejadian yang menimpa ARIEL, menimpa salah satu keluarga kita. Ayo! Sebagai warga Malang yang baik, mari kita kawal kasus ini sampai tuntas. Pertama Kita pasrahkan kasus ini kepada Bapak Walikota Malang selaku orang no.1 di lingkungan Kota Malang. Kedua kepada Bapak Kapolres Malang selaku pengayom masyarakat Malang,” tulis Vyan dalam petisi tersebut.

Bersyukur, sikap tegas sudah diambil dan ini jadi peringatan bagi sekolah lainnya untuk bersikap tegas dan mengawasi atau memantau siswanya serta mengantisipasi sbelum terjadi kasus yang lebih parah.

(Foto atas hanya ilustrasi)

Loading...

Artikel ini telah tayang di seword.com
dengan judul “Aksi Brutal Siswa di Malang, Jari Korban Diamputasi, Kepsek Dipecat”

 

Loading...
Loading...