Nilai Program Kampus Mengajar Mirip KKN, Ubaid: Buang-buang Anggaran

Nilai Program Kampus Mengajar Mirip KKN, Ubaid: Buang-buang Anggaran

11 Februari 2021 Off By Redaksi

NESIATIMES.COM — Nadiem Makarim baru saja meluncurkan program Kampus Mengajar.

Terkait program tersebut, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji mengutarakan pendapatnya.

Ia menilai program Kampus Mengajar itu tak jauh berbeda dari Kuliah Kerja Nyata yang ada di kampus-kampus.

Namun, pendapat berbeda terlontar dari Sesditjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Paristiyanti Nurwardhani.

Ia mengatakan program Kampus Mengajar berbeda dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Namun keduanya adalah bagian dari Kampus Merdeka, rangkaian kebijakan Mendikbud Nadiem Makarim di pendidikan tinggi.

Kemudian berlanjut pada sorotan Ubaid terkait efektivitas penggunaan dana negara pada program tersebut.

Menurut Ubaid, Kampus Mengajar berpotensi buang-buang uang negara.

Selain karena konsepnya serupa KKN yang sudah ada, menurut dia program itu terkesan terburu-buru.

Menurutnya, daripada membuat program baru, Kemedikbud seharusnya lebih memaksimalkan KKN yang sudah ada.

Kinerja maksimal itu dapat tercapai, kata Ubaid, jika mahasiswa yang terjun ke lapangan harusnya memiliki bekal tujuan dan strategi yang jelas.

Terkait pembekalan, Ubaid juga menyinggung pembekalan peserta Kampus Mengajar yang hanya berlangsung selama 7 hari.

Ia menilai kurun waktu tersebut terlalu singkat untuk menghasilkan persiapan yang matang.

“Kalau tidak dipersiapkan dengan matang dan tidak ada program yang berkesinambungan dan berkelanjutan, ya itu pasti ujung-ujungnya adalah pemborosan, buang-buang anggaran,” kata Ubaid, Rabu (10/2/2021) dikutip dari CNNIndonesia.com.

Selain itu, Ubaid menyebut dalam kondisi pandemi ini masih banyak kendala pendidikan yang membutuhkan dukungan dana besar dari pemerintah, namun belum terselesaikan.

BACA JUGA:  OJK Tetapkan 51 Fintech Pinjaman Online Ilegal Februari 2021, Waspadalah, Ini Daftar Lengkapnya

Di sisi lain, Mendikbud Nadiem Makarim sendiri mengharapkan mahasiswa bisa menjadi solusi kendala pembelajaran di daerah 3T karena pandemi covid-19 lewat program ini.

Program Kampus Mengajar

Menilik lebih dalam program Kampus Mengajar, program ini mengajak mahasiswa semester 5 ke atas menjadi pengajar di sekolah dasar (SD) di daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar).

Program ini membuka kuota peserta mencapai 15 ribu orang.

Dari kegiatan ini, mahasiswa akan mendapat nilai setara 12 satuan kredit semester (SKS).

Selain nilai, mahasiswa juga bakal mendapat bantuan uang kuliah tunggal (UKT) hingga Rp2,4 juta dan biaya hidup Rp700 ribu per bulan.

Untuk dana sendiri, setidaknya dibutuhkan Rp67,5 miliar.

Uang tersebut berasal dari dana pendidikan abadi yang dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

(Mel/Ana)