Suami Jual Istri yang Sedang Hamil 6 Bulan untuk ‘Threesome’

Suami Jual Istri yang Sedang Hamil 6 Bulan untuk ‘Threesome’

Agustus 16, 2019 0 By Meliana Leonardi
SHARE BERITA INI:
933

NESIATIMES.COM –  Agus Ariandi (30) atau Ari sama sekali tak menyangka tindakan menjual istrinya untuk melayani hubungan seks bertiga atau threesome terendus polisi. Ari menyebut hal ini dilakukan untuk menambah biaya persalinan.

Ari mengaku telah menikah selama enam bulan. Istrinya ini merupakan istri kedua yang dinikahinya secara sirih. Ari menambahkan dulunya dia sempat memiliki istri, namun kini telah kabur dari rumah atau minggat.Ari juga telah memiliki dua anak dari hubungannya dengan istri pertama. Sementara untuk istri kedua, tengah hamil enam bulan.

Ari mengaku sehari-harinya bekerja serabutan. Mulai kuli bangunan hingga memanjat tower untuk memasang Wi-Fi. Dia menambahkan gajinya tidak terlalu besara dan tidak cukup untuk uang biaya persalinan istrinya.

Selain itu, fantasi seks yang cukup tinggi membuatnya mengambil jalan pintas. Dari caranya ini, Ari mendapat dua keuntungan, fantasi seks yang tersalurkan dan uang untuk biaya persalinan istrinya.

Dia menjual istrinya Rp 1 juta untuk setiap hubungan seks. Uang hasil penjualan tersebut dimasukkan Ari ke ATM untuk tabungan biaya persalinan istrinya. Saat ada yang meminta jasa ini, Ari mengaku ada syarat yang ditetapkan, yakni harus bertiga bersama dirinya.

Dia menegaskan akan menolak tawaran pengguna yang meminta berhubungan dengan istrinya saja.

Sebelumnya, polisi menggerebek pasutri ini saat sedang melayani penggunanya dengan seks bertiga atau Threesome di sebuah hotel di Sarangan, Magetan. Sementara itu, petugas mengamankan sejumlah barang bukti, dari HP, uang tunai, kartu ATM, seprai yang digunakan, kondom, pelicin, hingga pakaian dalam pelaku dan istrinya.

Sedangkan Ari disangkakan melanggar Pasal 296 KUHP dan/atau Pasal 506 KUHP atau Pasal 45 ayat 1 juncto Pasal 27 ayat 1 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang UU ITE atau Pasal 12 UU RI No 21 Tahun 2007 tentang tindak pidana perdagangan.

 

(EFG/MEL)