Untuk Para Pebisnis, Pelajari 3 Hal Ini dari Kasus Jatuhnya NET TV

Untuk Para Pebisnis, Pelajari 3 Hal Ini dari Kasus Jatuhnya NET TV

Agustus 15, 2019 0 By Petrus C. Vianney
SHARE BERITA INI:
368

NESIATIMES.COM, – Berawal dari rumor tentang PHK Karyawan NET TV, akhirnya manajemen NET TV mengakui ada proses pemangkasan jumlah karyawan. Para karyawan secara sukarela diminta untuk mengundurkan diri demi perampingan organisasi.

Penyebabnya jelas yakni kinerja bisnis dan keuangan NET TV masih mengecewakan. Bahkan sejak tahun lalu, penyandang dana Indika Group resmi mundur alias pecah kongsi dengan NET TV.

Selain itu, rating NET TV masih kalah jauh dengan televisi lain, alhasil pendapatan iklan juga tidak lancar.

Pada sisi lain, biaya yang dikeluarkan sangat masif. Termasuk investasi untuk menggunakan teknologi High Definition TV  yang amat mahal. Berkat teknologi inilah, kualitas gambar NET TV paling bagus dibanding stasiun televisi lainnya.

Dalam tulisan kali ini, saya ingin mengajak anda untuk menelisik tiga pelajaran yang bisa kita ambil dari gagalnya bisnis yang dijalankan oleh NET TV :

Target pasar harus tepat (Sumber : Istimewa)

  • Salah Dalam Membidik Target Market Sejak Awal

Target market yang cerdik sejatinya ialah penyebab bedanya NET TV dengan stasiun televisi lain, sebab jadi berbeda dengan target market TV lainnya yang lebih menyasar kelas menengah ke bawah yang tinggal di desa atau kota- kota kecil di Indonesia.

Problem besarnya ialah target market yang dibidik NET TV sudah direbut habis oleh Youtube, Instagram Stories, dan Layanan TV Streaming seperti : Netflix, Hooq, Iflix, dll.

Kesalahan NET TV untuk memilih target market kelas premium yang sudah lama enggan menonton televisi, bahkan sebalinya target market terbesar bisnis televisi ialah : Program Sinetron, dan Reality Show.

Idealisme tanpa Profit sama dengan Omong Kosong     (Sumber : Istimewa)

  • Idealisme dan Passion adalah Omong Kosong

Wishnutama selaku CEO NET TV dan figur kreatif dalam industri televisi, Dia punya passion dan idealisme yang tinggi untuk menghadirkan layanan televisi yang kreatif dan tidak abal – abal. Dan ia berhasil dalam hal ini.

But Business is bussiness, and bussiness is all about money.

Karena pada akhirnya uang yang membuat semua operasi bisnis berjalan, bahkan jika tidak ada profit, usaha yang dijalankan akan terasa sia – sia.

Saat anda terlalu memburu passion personal, dan gagal dalam melihat potensi pasar, maka anda akan terpelanting jatuh karena tidak dapat bersaing

Persaingan di era Digital semakin Kompleks (Sumber : Okezone.com)

  • Kompetisi Digital Yang Makin Kompleks

Sudah jatuh tertimpa tangga pula, NET TV dibuat babak belur yang ternyata pesaing nya bukan dari sesama stasiun televisi, melainkan kekuatan layar Handphone yang semakin variatif kontennya.

Youtube, IG Stories, dan Netflix adalah pesaing disruptif yang menghancurkan potensi bisnis NET TV dan kekuatan digtal players terlalu tangguh untuk dilawan.

Dalam era digital seperti ini, potensi persaingan ternyata bisa datang darimana saja, bukan hanya dari pesaing tradisional tau dari pelaku bisnis yang sama.

 

Demikian tiga pelajaran bisnis yang dapat kita petik dari kisah gagalnya NET TV menjadi stasiun televisi yang kreatif namun sekaigus profitable.

BACA SELENGKAPNYA : NET TV Rencanakan PHK Karyawan Secara Massal, Tak Sanggup Bersaing

(PC/ ANSELMUS LAGUDO)