Warga Ungkap Kebenaran soal Video Penjarahan Sembako Korban Gempa Majene

Warga Ungkap Kebenaran soal Video Penjarahan Sembako Korban Gempa Majene

17 Januari 2021 Off By Redaksi

NESIATIMES.COM – Rusman Haeba (35) buka suara terkait video penjarahan bantuan sembako gempa Majene yang viral di media sosial.

Menurut salah satu warga Tapalang, Mamuju itu, peristiwa tersebut memang benar terjadi namun kejadian aslinya tidak sesuai dengan apa yang terlihat dalam video tersebut.

Menurutnya warga terpaksa melakukan hal tersebut karena kelaparan lantaran daerah mereka sama sekali belum mendapatkan bantuan sejak gempa terjadi.

“Mengenai video viral penjarahan terjadi di Tapalang-Kasambang, itu memang benar seperti yang ada di video.

Tapi itu tidak mencerminkan kejadian sesungguhnya,” kata Rusman saat dikonfirmasi, Sabtu (16/1/2021) dikutip dari kumparan.

Saat itu sekitar pukul 11.30 WITA, delapan mobil rombongan yang memuat bantuan korban gempa melintas di lokasi kejadian.

Dengan kondisi kelaparan dan kehausan, mereka berinisiatif meminta bantuan makanan kepada kendaraan yang lewat, bukan menjarah.

Awalnya, warga dan mobil rombongan pun berkoordinasi dengan baik untuk mengambil bantuan yang terdapat di dalam mobil.

Namun setelah warga selesai mengambil bantuan, tiba-tiba seorang pria berteriak dengan nada kasar sambil nunjuk-nunjuk warga.

BACA JUGA:  Kabar Gembira! BLT UMKM Rp2,4 Juta Cair Maret 2021, Begini Syarat dan Cara Daftarnya

Sontak hal ini menuai kemarahan dari warga dan membalasnya.

Akhirnya, warga terdampak gempa di Tapalang itu sempat bersitegang dengan pria berseragam oranye.

Rusman turut menyayangkan potongan video yang beredar tersebut karena hanya berisi cuplikan kemarahan dari warga dan tidak menjelaskan kejadian dari awal.

Sebelumnya, Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini sempat menanggapi video tersebut.

Menurut Risma, aksi warga tersebut bukanlah penjarahan namun keterpaksaan lantaran haus dan kelaparan.

“Jadi mungkin mereka juga memang kelaparan kondisinya.

Jadi sekali lagi bukan penjarahan. Karena kita harus membaca situasi. Karena tidak ada pasar yang buka.

Tidak ada toko yang buka karena semua takut sehingga semua mengungsi,” ujar Risma

(Leo/Mel)