Anies: Menantang Kabinetnya Jokowi, Sama Halnya Menantang Jokowi. Pasti Dibeli!!

Anies: Menantang Kabinetnya Jokowi, Sama Halnya Menantang Jokowi. Pasti Dibeli!!

7 November 2019 Off By NANAHARASUYA

JAKARTA – Tiga bulan itu tidak lama, Nies!! Percaya pada saya. Jokowi sudah bersabar selama 3 tahun, kalau disuruh menunggu 6 bulan pun, pasti dijabanin oleh Jokowi. Apalagi ini hanya 2 bulan. Saya yakin, bukan masalah besar buat Jokowi untuk diam dan memperhatikan tingkah polahmu dari dalam Istana.

Bahasa komunikasi politik Anies Baswedan memang jempolan. Anies memang cocok sekali menjadi seorang pembicara, juru bicara, banyak bicara, pokoknya jabatan-jabatan yang ada kata ‘bicara’nya. Makanya tak heran, ketika Anies Baswedan menjabat sebagai Gubernur Jakarta, semua implementasi program yang dia janjikan saat kampanye dulu, meraih kesuksesan sebatas ‘bicara’ saja.

Dengan keahlian berbicara, Anies Baswedan terlihat tak gentar menghadapi serangan, kritik, protes, sindiran, hujatan, ataupun pertanyaan. Contoh yang laing nyata adalah ketika isu anggaran dibongkar ke mesyarakat, dengan gayanya Anies mengatakan, “Sistem E-budgeting tidak smart” atau bahasa yang lebih telak lagi Anies bilang “Ada masalah dengan sistem E-Budgeting warisan gubernur sebelumnya”. Cieee… mengalihkan isu atau playing victim, nih Nies?

Dan ketika Sri Mulyani mengajak Tito Karnavian untuk “memperbaiki” APBD DKI Jakarta, dengan gayanya juga Anies bilang, “kurang kerjaan”. Dan kalimat ini tidak berdiri sendiri. Ada kalimat-kalimat lain yang cukup memperlihatkan kekhawatiran Anies jika Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Mengeri Dalam Negeri Tito Karnavian, benar-benar melakukan penyisiran.

“Pak Mendagri mengatakan semua urusan penganggaran adalah urusan daerah. Ketika sudah diketok jadi anggaran, baru nanti di-review oleh pemerintah pusat. Ketika masih dalam proses, dapurnya (ranahnya) Pemda dengan DPR.”

Ini Mendagri mana yah yang Anies bicarakan? Mendari dulu apa Mendagri yang baru?

Sebenarnya masalah anggaran daerah itu memang menjadi urusan daerah, ketika nama-nama item dan jumlah yang dianggarkan semuanya dalam batar kewajaran. Tapi kalau anggaran dimana nama item dan angka yang tertera sangat tidak masuk akal, kemudian DPRD DKI tidak teliti, lalu anggaran yang ugal-ugalan itu berhasil disahkan, saya yakin, Anies akan punya dalih lain untuk menghindari penyisiran anggaran oleh Sri Mulyani dan Tito Karnavian.

Dalih Anies bahwa selama anggaran daerah itu masih dalam tahap proses, itu masih menjadi urusan pemda dan DPRD DKI, tidak bisa lagi dibiarkan. Karena sudah dua tahun ini Anies Baswedan begitu bebas berpesta pora dengan jumlah anggaran yang hampir mencapai 90 triliun rupiah ini, DPRD DKI nya kemana? Kok ga terdengar suaranya? Ya pastilah mereka menjadi undangan dan ikutan berpesta pora. Jadi wajar lah kalau di tahun ketiga ini pemerintah pusat ingin menyisir anggaran daerah DKI Jakarta dan menghentikan pesta poranya Anies Baswedan.

Saya jadi ingat sama lawan hukum saya yang sekuat tenaga menghindari audit investigasi, seribu satu alasan dan tiga puluh enam macam manuver mereka lakukan. Asal ga ada itu audit investigasi atas laporan keuangan yayasan.

Apapun dalih Anies terhadap pernyataan Sri Mulyani, saya sangat berharap rencana menyisir anggaran pemda DKI Jakarta benar-benar dilakukan. Mungkin akan lebih gampang kalau penyisiran ini dilakukan di awal tahun 2020, setelah pimpinan KPK yang baru dan Anggota Dewan pengawas usai dilantik oleh Presiden Jokowi.

Seloroh Anies yang mengatakan “Buat saya silakan kalau masih kurang pekerjaan, saya tambahin pekerjaan ini (menyisir anggaran janggal DKI Jakarta)”, lebih terdengar seperti sebuah tantangan bahwa dirinya tidak takut jika anggaran yang dirancangan disisir lagi oleh pemerintah pusat.

Yaelah, Anies ini kayak ga kenal Jokowi ajeh… Jokowi ditantangan, ya pasti dibelilah!!

Apa Anies tidak melihat susunan Kabinet Indonesia Maju sekarang disiapkan salah satunya adalah untuk menggulung semua pihak penggembira DKI Jakarta dan “menertibkan” Gubernur yang punya cita rasa presiden Indonesia?

Ini cuma masalah waktu saja.

Dan mumpung masih ada waktu dua bulan lagi, sebaiknya Anies segera memperbaiki nama-nama item yang dipakai dan menuliskan angka-angka yang rasional, biar kalimat “nenek elu ngelem aibon” tidak diguratkan di atas kertas anggaran. Apalagi backing yang selama ini menjadi pelindung Anies Baswedan sudah mulai acang-acang untuk mengundurkan diri dari KPK, Anies harus benar-benar mawas diri sekarang. Karena kalau tidak, dia bisa terjerembab.

 

***

Artikel ini telah tayang di Seword.com dengan judul “Anies Baswedan: Menantang Kabinetnya Jokowi, Berarti Menantang Jokowi. Pasti Dibeli!!”