Gadget dan Kerapuhan “Nilai Etis Manusia”

Gadget dan Kerapuhan “Nilai Etis Manusia”

5 November 2021 Off By Redaksi

NESIATIMES.COM – Sepekan terakhir, penulis mendapatkan dua video yang viral di media sosial (facebook).

Pertama adalah video dari seorang nenek tua yang meringis kesakitan dan meminta pertolongan.

Nenek tersebut diduga jatuh dari motor. Tampak di video, beberapa remaja mengalami kebingungan dan ketakutan untuk menolong tersebut.

Pilihan yang mereka lakukan justru merekam dan memviralkan video tersebut. Peristiwa ini terjadi di Manggarai Timur, Flores, NTT.

Kedua adalah video kecelakaan yang dialami oleh artis Vanesa Angel dan suami beserta 3 orang lainnya di ruas Tol Jombang-Mojokerto KM 672.400/A.

Video yang mempertontonkan sosok manusia yang tergeletak di jalan tol itu, dengan sengaja dan penuh kesadaran diviralkan di media sosial.

Dua video yang sengaja diposting dan diviralkan melalui media sosial, tentu bukan yang pertama kali terjadi.

Jauh sebelumnya, juga muncul video-video serupa yang mengganggu pandangan mata dari warganet. Alih-alih video tersebut diposting untuk tujuan mendapatkan simpati dan empati yang mendalam, justru mengundang reaksi yang mengarah kepada caci maki kepada warganet yang mempostingnya.

Reaksi tersebut lahir bersamaan dengan wujud kepedulian sekaligus pemahaman akan apa yang boleh dan yang tidak boleh untuk diviralkan di media sosial.

Apa yang dilakukan oleh orang yang memposting dua video tersebut memberikan konfirmasi kepada publik tentang kerapuhan nilai etis kemanusiaan yang kita miliki.

Kehidupan kita yang tak bisa dipisahkan dari gadget, justru mengarah kepada kehancuran dan keterpurukan. Gadget memberikan penetrasi yang kuat untuk mengontrol perilaku kita.

Hal ini terjadi bersamaan dengan kehilangan sikap kritis dan selektif yang seharusnya menjadi modal dalam beradaptasi dengan perubahan yang baru.

Rasio atau akal budi yang menjadi ciri khas sekaligus keunggulan manusia, sejatinya ditempatkan pada garda terdepan dalam merespon setiap perubahan.

Salah satunya, ketika kehidupan sosial kita dicengkeram oleh teknologi (gadget). Sebagai benda (fisik), kita perlu menempatkan gadget di bawah pengawasan dan pengontrolan yang kuat dari kita.

Fungsi kontrol dan pengawasan yang dimaksudkan bukan semata-mata agar benda tersebut tetap awet dan tahan lama, melainkan juga fungsi kontrol dan pengawasan dalam pengoperasiannya.

Fakta mengungkapkan bahwa pola relasi dan interaksi sosial manusia dewasa ini banyak terjadi di ruang media sosial.

Gadget menjadi ruang perjumpaan yang paling banyak digunakan oleh manusia.

Hal ini semakin jelas, tatkala ruang fisik perjumpaan manusia tengah digempur oleh pandemi covid-19.

Akibatnya, perjumpaan di dunia maya menjadi sebuah keharusan untuk bisa mengobati rasa rindu dan kangen dengan keluarga, sahabat dan juga rekan kerja.

Sayang seribu sayang, media sosial yang sejatinya dimanfaatkan sebagai ruang dialog yang membangun dan mengarah kepada kerja sama yang positif, justru dimanfaatkan untuk kepentingan memproduksi berbagai bentuk cyber crime.

Fenomena viralnya dua video di atas menjadi penanda kuat, bahwa tak sedikit diantara kita suka menampilkan “wajah-wajah beringas” yang jauh dari nilai etis kemanusiaan.

Kita tengah mempertontonkan perilaku tidak etis sekaligus merayakan euforia di tengah duka dan rasa sakit hati baik bagi si korban maupun keluarga yang ditinggalkan.

Hal ini juga menjadi preseden buruk sekaligus catatan kritis bagi kita dalam bermedia sosial.

Oleh karena itu, perlu bagi kita untuk mengontrol pikiran, hati dan juga jari-jari manis kita agar tak semudah membalikan telapak tangan dalam memposting sesuatu di media sosial.

Kita harus memikirkan dampak psikologis dan sosial dari warganet.

(Epin Solanta, Penulis Buku Dialektika Ruang Publik: Pertarungan Gagasan)

(Stev/Eps).