Grebeg Sudiro Sebagai Wujud Harmonisasi Budaya Jawa-Tinghoa

Grebeg Sudiro Sebagai Wujud Harmonisasi Budaya Jawa-Tinghoa

23 Oktober 2019 Off By Fitri Febriani

NESIATIMES.COM – Budaya Jawa memang dikenal dengan tradisinya yang masih kental. Salah satunya di Solo yang menjadi pusat perkembangan terhadap daerahnya.

Tradisi yang sampai saat ini masih berjalan yaitu Grebeg Sudiro suatu perayaan perpaduan dari masyarakat Tinghoa dan Jawa.

Sejarah awal Grebek Sudiro pada tahun 2007 oleh warga Sudiroprajan yaitu Oei Bengki, Sarjono Lelono Putro dan Kamajaya pendiri dalam tradisi tersebut.

Grebeg Sudiro merupakan suatu perayaan saat menjelang tahun baru Imlek di Kota Surakarta atau Solo, Jawa Tengah. Untuk menunjukkan kegiatan ini diperingati tujuh hari sebelum Imlek.

Tradisi ini berupa mengarak gunungan berisi kue keranjang dan berkeliling kota yang berakhir di Pasar Gedhe.

Setelah itu warga akan rebutan untuk mengambil kue keranjang yang disusun bentuk gunung. Dalam tradisi tersebut juga memiliki makna yaitu sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tradisi ini tak hanya rebutan kue saja. Tetapi ada kesenian lainnya seperti atraksi barongsai, tari-tarian, dan karnaval kegiatan yang lain misalnya lomba kreasi lampion, wisata perahu hias Sungai Pepe, lalu penutupan kembang api yang dilaksanakan pada malam hari sebelum tahun baru Imlek.

Grebeg Sudiro mempunyai simbol persatuan dan gotong royong, karena masyarakatnya dari berbagai kalangan khususnya etnis Jawa dan Tinghoa yang menjadi satu dalam kerukunan serta keharmonisan.

(EFG/FITRI)