Heboh Dugaan Pemaksaan Jilbab di SMA N 1 Banguntapan, Sultan HB X Ambil Tindakan Tegas

Heboh Dugaan Pemaksaan Jilbab di SMA N 1 Banguntapan, Sultan HB X Ambil Tindakan Tegas

5 Agustus 2022 Off By Redaksi

NESIATIMES.COM – Kasus dugaan pemaksaan penggunaan jilbab yang terjadi di SMAN 1 Banguntapan Bantul Yogyakarta viral di media sosial.

Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X pun mengambil tindakan tegas terkait kasus tersebut. 

Ia membebastugaskan kepala sekolah dan tiga guru yang diduga terlibat masalah itu hingga penyelidikan kasus selesai.

“Untuk kepala sekolah dan tiga guru di SMAN 1 Banguntapan Bantul itu saya bebastugaskan dulu,” kata Sultan HB X, dikutip Jumat (5/8/2022).

Sultan menyatakan masih menanti rekomendasi dari tim bentukan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) DI Yogyakarta untuk mengambil keputusan atas kasus tersebut.

Sultan menyesalkan, kebijakan sekolah negeri yang mewajibkan siswi muslim untuk berjilbab itu sampai harus membuat siswi bersangkutan depresi hingga memutuskan pindah sekolah.

Lebih lanjut, Sultan menyebut kebijakan pemaksaan jilbab oleh sekolah itu ada unsur melanggar keputusan Menteri Pendidikan.

Yakni Peraturan Menteri Pendidikan nomor 45 tahun 2014 tentang pakaian seragam sekolah.

Ia menegaskan tidak ingin melihat pelanggaran yang sama di kemudian hari.

Sultan Hamengkubwono X menuturkan, sekolah negeri wajib menjunjung semangat kebhinekaan yang sudah terjaga di Yogyakarta.

Sehingga tidak ada pemaksaan dalam bentuk apapun kepada siswa.

Dari informasi yang digali Ombudsman Republik Indonesia (ORI) DI Yogyakarta, sekolah SMAN 1 Banguntapan Bantul mewajibkan siswi muslim berjilbab.

Salah satu tujuannya adalah untuk mengejar akreditasi sekolah.

Namun, Sultan menegaskan bahwa tidak ada hubungan antara penggunaan hijab dengan penilaian akreditasi.

“Tidak ada hubungannya,” kata Sultan.

Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan DI Yogyakarta hingga Kamis 4 Agustus masih terus memanggil keterangan guru-guru SMA Negeri 1 Banguntapan.

Yakni untuk menyelidiki dan menggali informasi mendalam mengenai dugaan pemaksaan jilbab itu. 

ORI DIY telah memanggil dua guru Bimbingan Konseling atau BK pada Rabu kemarin.

Kemudian pada Kamis, 4 Agustus 2022 ORI DIY memanggil satu dari tiga guru agama dan wali kelas siswi itu.

Kepala ORI DIY Budhi Masturi mengatakan dari pemeriksaan keterangan dari guru agama sekolah itu berinisial U, yang pertama kali melaporkan ke wali kelas bahwa di kelas itu ada siswi muslim tak berjilbab.

Sangat Banyak Program Keagamaan 

Budhi menjelaskan bahwa ORI DIY juga menggali informasi secara keseluruhan.

Pasalnya sekolah ini punya program-program keagamaan yang lumayan banyak. 

Selain mata pelajaran agama, di sekolah itu juga ada kegiatan atau program tadarus.

Bahkan, ada yang sentral yang dipandu oleh orang yang mengaji dari ruang wakil kepala sekolah dan masing-masing kelas ada speaker dan siswa mendengar dan mengikuti. 

Selain itu, ada juga tadarus yang sifatnya target membaca satu minggu dua juz. 

Kemudian ORI coba mengklarifikasi kenapa sekolah negeri itu membuat program keagamaan seperti itu. 

Ternyata mereka membuat program-program seperti itu untuk mengantisipasi proses penilaian akreditasi. 

Kata Budhi, di panduan akreditasi memang ada poin salah satu parameternya itu siswa menunjukkan perilaku religius dalam aktivitas di sekolah atau madrasah.

Di standar itu sudah ada instrumen-instrumen akreditasi. 

Kegiatan-kegiatan itu, menurut Budhi, menjadi materi yang dilaporkan pada saat akreditasi SMAN 1 Banguntapan Bantul. 

Namun, Budhi menilai bahwa pihak sekolah terdapat kekeliruan membaca parameter akreditasi.

Kasus pemaksaan penggunaan jilbab ternyata tak hanya terjadi di SMAN 1 Banguntapan Bantul, DI Yogyakarta. 

Kasus serupa terjadi juga di SMPN 46 DKI Jakarta

Yuk! baca artikel menarik lainnya dari NESIATIMES.COM di GOOGLE NEWS

Baca Juga:

(Stv/Hsb)