Ini Dia Sosok 2 Jagoan Penguasa Pelabuhan Tanjung Priok & Preman Paling Ditakuti di Jakarta

Ini Dia Sosok 2 Jagoan Penguasa Pelabuhan Tanjung Priok & Preman Paling Ditakuti di Jakarta

14 Juni 2021 Off By Redaksi

NESIATIMES.COM – Dewasa ini, aparat kepolisian sedang gencar memberantas aksi premanisme di tanah air termasuk Pelabuhan Tanjung Priok.

Hal tersebut terjadi pasca kunjungan Presiden Joko Widodo di Jakarta International Container Terminal (JICT), Kamis (10/6/2021).

Sebagai pelabuhan utama Kota Jakarta, Tanjung Priok merupakan salah satu lumbung ekonomi yang dipenuhi para preman.

Daerah seperti itu kerap menjadi lahan perebutan kekuasaan baik antar individu maupun antar organisasi pengelola keamanan (jagoan).

Masyarakat pada masa lampau menamakannya sebagai daerah onderwereld atau dunia hitam karena seram dan menakutkan.

Melansir dari SINDONEWS.com pada Senin (14/6/2021), ada dua etnis yang eksis dalam daerah onderwereld yakni Bugis dan Banten.

Salah satu sosok jagoan yang menguasai Pelabuhan Tanjung Priok hingga akhir tahun 50-an yakni Labuang De Passore alias Lagoa dari Bugis.

Lagoa merupakan tokoh masyarakat yang menjadi jagoan yang juga merangkap sebagai mandor pelabuhan.

Selain itu, ada pula sosok jagoan lain yang juga berprofesi sebagai mandor berasal dari etnis Banten, Haji Tjitra bin Kidang.

Nama Haji Tjitra sudah kondang sebagai penguasa Pelabuhan Tanjung Priok sejak akhir tahun 1920-an setelah merebutnya dari jagoan yang juga berasal dari Banten.

Kala itu, perseteruan antara Haji Tjitra dan Lagoa sebagai pendatang kerap menimbulkan kerusuhan bahkan mengakibatkan korban nyawa.

Akan tetapi, kisah keduanya berakhir harmonis dengan puncak perdamaian saat Haji Tjitra mengangkat Lagoa sebagai menantu.

Maraknya aksi premanisme di Jakarta sejatinya sudah ada sejak masa penjajahan Kolonial Belanda.

Ketika itu, para preman beraksi dengan menargetkan warga keturunan Belanda dan Tionghoa kemudian memberikan hasilnya ke rakyat miskin.

Pada pertengahan akhir abad 19, Muhammad Arif alias Haji Darip menjadi penguasa di kawasan Klender, Pulogadung, Jatinegara, sampai Bekasi.

Selain itu, ada nama si Conat yang juga tersohor pada pertengahan abad 19 biasa melakukan kejahatan di Kebayoran Lama hingga Tangerang.

Kemudian Angkri yang biasa merampok di daerah pantai utara termasuk Marunda, Tanjung Priok, dan Ancol.

Pelaku preman tersebut kebanyakan merupakan eks pejuang laskar yang kehilangan pekerjaan karena revolusi telah berakhir.

Mereka yang tidak terakomodir dalam institusi militer memutuskan untuk masuk dalam dunia kekerasan untuk melanjutkan hidupnya.

(Mel/Rah).