Kisah Gubernur Bali Sutedja yang Hilang di Jakarta, Sampai Sekarang Jejaknya Tak Diketahui

Kisah Gubernur Bali Sutedja yang Hilang di Jakarta, Sampai Sekarang Jejaknya Tak Diketahui

13 September 2021 Off By Redaksi

NESIATIMES.COM – Kisah hilangnya Gubernur Bali pertama, Anak Agung Bagus Sutedja masih menjadi teka-teki sampai saat ini.

Sutedja diangkat sebagai Gubernur Bali pada tahun 1959 dan bertugas di Jakarta sejak 1 Desember 1965 karena dipanggil Presiden Soekarno berdasarkan SK Nomor 380/1965.

Dia berkantor di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Detik-detik hilangnya Sutedja tertuang dalam buku “Kisah Penculikan Gubernur Bali, Sutedja 1966”, yang ditulis wartawan senior harian Sinar Harapan, Aju.

Pada 29 Juli 1966 sekitar pukul 09.00 WIB,  sebuah mobil Jeep Nissan Patrol berhenti di depan rumah Sutedja di Kompleks Senayan Nomor 261/262, Jakarta.

Terdapat tiga orang berseragam tentara turun dari mobil, sedangkan satu orang lainnya menunggu di dalam mobil.

Satu orang sebagai komandan bersenjata pistol dan dua lainnya memegang laras panjang itu berjalan menuju rumah Sutedja.

Sosok komandan berpangkat Sersan Satu bertanya kepada istri Sutedja, Anak Agung Istri Ngurah Sunitri.

“Apakah Bapak ada di rumah?,” tanyanya.

“Bapak ada,” jawab Sunitri.

Tak lama kemudian, Sutedja keluar dan menanyakan kepada ketiga prajurit tersebut terkait ada keperluan apa.

Para tentara itu lantas memberikan hormat layaknya prajurit kepada pejabat negara selevel gubernur.

“Bapak Gubernur diminta datang oleh Kapten Teddy di Jalan Perwira, Medan Merdeka,” jelasnya.

Tempat yang mereka maksud tersebut ialah Markas Staf Komando Garnizun Medan Merdeka, Jakarta.

Sutedja yang kala itu berusia 43 tahun tidak curiga karena para prajurit tersebut bertutur kata sangat sopan sehingga menyatakan bersedia.

Sutedja pun lantas mempersiapkan diri dengan berpakaian rapi kemudian tak lupa untuk berpamitan kepada sang istri.

Sebelum mobil jemputan itu meninggalkan rumah, Sunitri sempat mencatat pelat nomornya namun ia lupa menanyakan surat tugas penjemput tersebut.

Sutedja yang mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda dan celana panjang kheki serta sepatu hitam duduk di kursi tengah.

Sedangkan tiga pria berseragam tentara yang menjemputnya duduk di kursi paling belakang.

Hingga malam hari, keluarga mulai curiga lantaran Sutedja tak kunjung pulang dan tidak ada kabar.

Sekitar pukul 23.00 WIB, Sunitri bersama staf kementerian pertanian MAE Sutedja membuat laporan ke polisi.

Kemudian, Markas Staf Komando Garnizun Medan Merdeka menyatakan tidak pernah menjadwalkan penjemputan Sutedja.

Nama Kapten Teddy juga tidak dikenal di Markas Staf Komando Garnizun Medan Merdeka serta mobil Jeep yang dipakai menjemput juga tidak tercatat.

Sunitri lantas melapor kepada Presiden Soekarno yang saat itu sudah berstatus tahanan rumah terhitung 3 Oktober 1965 oleh Menteri/Panglima Angkatan Darat, Letjen TNI Soeharto di Istana Negara Bogor.

Saat itu, Presiden Soekarno juga mengaku tidak pernah memanggil Sutedja, begitupun dengan Kemendagri dan Kantor DPA.

Sang anak sulung, Anak Agung Gede Benny Sutedja pun mulai melakukan upaya pencarian kejelasan nasib ayahnya.

Saat penculikan terjadi, Benny tengah mengikuti operasi Trikora di Irian Jaya.

Dia dimutasi ke Jakarta setelah tahun 1970 dan langsung memanfaatkan kesempatan untuk menggali informasi soal keberadaan ayahnya.

Meskipun demikian, jawaban Mendagri Basuki Rachmat serta Kepala Skrining Nasional Gatot Subroto tidak pernah memuaskan.

Keluarga besar di Puri Negara Djembrana dari Kabupaten Jembrana, Bali menyebut Sutedja meninggal dunia sebagai korban konspirasi penculikan politik.

Selama tiga dasawarsa, Puri Agung Negara Djembrana harus menanggung stigma terlibat gerakan PKI.

Akan tetapi, Menko Politik dan Keamanan Sudomo menganulir tudingan tersebut karena tidak ada bukti Sutedja terlibat PKI.

Kendati demikian, pemerintah tetap mengabaikan hak ahli waris Sutedja sebagai pejabat negara.

Pihak keluarga telah berupaya memperjuangkan hak tersebut sejak masa Presiden Soeharto hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Mereka berkirim surat untuk mempertanyakan hak gaji hingga pensiun Sutedja sebagai pejabat negara namun tidak membuahkan hasil.

(Leo/Nov).