Mengenal Sawah Jaring Laba-Laba di Flores, Pesonanya Bikin Wisatawan Mancanegara Terpikat, Wow

Mengenal Sawah Jaring Laba-Laba di Flores, Pesonanya Bikin Wisatawan Mancanegara Terpikat, Wow

16 Maret 2022 Off By Redaksi

NESIATIMES.COM – Beberapa daerah di Indonesia nyatanya masih alami.

Tak terkecuali Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Daerah yang terletak di bagian barat Pulau Flores ini tak hanya terkenal dengan bibir pantainya yang seksi berbalut pasir putih sertai belain ombak yang selalu memecah bibir pantai dengan lembut.

Tetapi juga perkebunan dan persawahan yang membentang indah menghiasi bumi conkasae (baca: Manggarai).

Bahkan, pernah pada masanya, daerah Manggarai dinobatkan sebagai lumbung pangan untuk NTT. Keren bukan?

Dari sekian banyak areal persawahan yang ada di daerah Manggarai, ada satu yang unik dan menjadi ikon pariwisata yaitu sawah berbentuk jaring laba-laba (spiderweb rice fields).

Sawah ini terletak di Desa Cancar, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, tepatnya di Kampung Meler.

Bagaimana akses menuju ke sawah jaring laba-laba ini?

Jika kita berangkat dari Labuan Bajo, maka harus menempuh perjalanan darat dengan jarak kurang lebih 110 km, dengan durasi waktu kurang lebih 3,5 jam.

Tidak seperti areal persawahan di Lembor, yang letaknya di pinggir jalan.

Membelah jalan trans Flores, sawah berbentuk jaring laba-laba ini agak jauh dari jalan raya.

“Kita harus memarkir kendaraan dulu, mengisi buku tamu, baru jalan kaki ke atas bukti, namanya Bukit Weol. Mendakinya tidak sulit, sudah dibuat tangga-tangga, lalu dilanjutkan dengan jalan tanah. Tidak jauh, paling 5 menit, kita sudah tiba di puncak bukit. Dari atas puncak bukit tersebut, kita bisa melihat hamparan sawah jaring laba-laba, dengan latar belakang perbukitan dan perkampungan warga” kata salah satu warga, Rabu (16/3/2022).

Proses Pembuatan

Pembuatan sawah yang berbentuk jaring laba-laba ini melalui proses panjang dan selalu bersandar pada filosofi dan budaya orang Manggarai.

Desain sawah jarin laba-laba tersebut merupakan mahakarya warisan dari leluhur orang Manggarai.

Lodok yang menjadi titik tengah adalah sistem pembagian sawah yang sudah dilakukan oleh masyarakat Manggarai sejak dulu.

Titik nol yang berada di bagian tengah sawah atau lingko menentukan penentuan perhitungannya.

Orang yang menangani pembagian akan menarik garis panjang dari lingko sampai ke bidang terluar atau cicing.

Proses ini mengikuti filosofi pembuatan sarang laba-laba yang akan membuat bagian dalam atau tengah Lodok lebih kecil dibandingkan bagian luar yang lebih lebar.

Adalah otoritas Tu’a Teno yang bakal mengurus pola pembagian sawah.

Mereka adalah ketua adat yang mempunyai tugas penting dalam pembuatan lodok.

Sebelum prosesnya dimulai, Tu’a Teno akan menyelenggarakan ritual tente dengan menancapkan kayu atau teno di titik sentral yang akan menjadi sawah jaring laba-laba.

Selain mengikuti jaring laba-laba, konon pembuatan lodok juga berdasarkan oleh rumus moso atau jari tangan.

Perhitungannya pun menyesuaikan jumlah penerima tanah warisan beserta keturunannya.

Selain itu, rumus moso menetapkan bahwa petinggi kampung seperti Tu’a Teno dan Tu’a Golo menjadi prioritas yang menerima bagian sawah paling besar.

Setelah itu, warga biasa dari suku dan di luar suku akan mendapatkan bagian-bagian yang lebih kecil.

Wisata Pengetahuan

Sawah jaring laba-laba kini menjadi objek wisata yang menarik minat bukan hanya wisatawan dalam negeri, melainkan juga wisatawan mancanegara.

Bentuknya yang unik menjadi alasan bagi para wisatawan untuk mengunjunginya.

Nyatanya, kunjungan para wisatawan tak hanya sekadar menikmati sunshet dan sunrise berlatarkan panorama alam yang memesona itu, melainkan juga untuk kepentingan wisata pengetahuan.

Para wisatawan akan disuguhi dengan pengetahuan tentang filosofi sawah jaring laba-laba tersebut.

Dibalik keindahan dan kemolekan areal persawahan tersebut, tersimpan sejuta makna tentang filosofi hidup orang Manggarai yang selalu memusatkan hidup dan kehidupannya pada Tuhan Yang Maha Esa.

Lingko atau pusat menjadi bagian sentral.

Dari lingko tersebut akan mengalir rejeki kehidupan dan hal lain yang akan menunjang kehidupan masyarakat Manggarai.

Selain simbol peradaban masyarakat Manggarai, sawah ini juga bermakna terwujudnya nilai-nilai Pancasila yang menjadi ciri khas dan karakteristik masyarakat Indonesia pada umumnya.

Penulis: Epin Solanta

Editor: Steven