Profesor Nidom Ungkap Riset Titer Antibodi Vaksin Nusantara, Hasilnya Mencengangkan

Profesor Nidom Ungkap Riset Titer Antibodi Vaksin Nusantara, Hasilnya Mencengangkan

20 Agustus 2021 Off By Redaksi

NESIATIMES.COM – Guru Besar Ilmu Biokimia dan Biologi Molekular Unair Prof drh Chairul Anwar Nidom melakukan riset titer antibodi terhadap penerima vaksin nusantara.

Prof Nidom mengungkapkan hasil riset titer antibodi orang yang sudah menerima vaksin nusantara mempunyai daya protektif, berbeda dengan vaksin konvensional.

Kemudian, Prof Nidom menjelaskan bahwa pihaknya menguji titer antibodi yang ditambahkan dengan pengujian lainnya.

Hal tersebut lantaran vaksin nusantara tersebut tak hanya mempunyai titer antibodi namun juga sel memori.

Melansir dari kanal YouTube Siti Fadilah Supari Channel, Prof Nidom mengungkapkan bahwa hasil riset tersebut cukup mencengangkan.

Pada prinsipnya, Prof Nidom mengaku kurang percaya terhadap pendekatan vaksin sehingga langsung mengajukan uji klinis vaksin nusantara tahap kedua.

“Akhirnya saya melihat, hasilnya cukup mencengangkan semua sembilan-sembilannya itu punya daya protektif, walaupun yang dinamakan titer antibodi itu garis minim,” paparnya, seperti dikutip pada Jumat (20/8/2021).

Sebelumnya, Prof Nidom menjelaskan dalam riset tersebut pihaknya mengajukan kepada RSPAD terkait teknologinya.

Kemudian setelah pulang dari Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPR, pihaknya menghubungi tim dari Semarang yang masih mempunyai serum.

Pihaknya lantas menawarkan diri bagaimana jika sisa serum tersebut diuji kemudian akhirnya dikirim semua.

Dalam perjalanan itu, Prof Nidom mendapat kabar bahwa di Surabaya ada kelompok yang menerima vaksin nusantara dengan koordinator Dahlan Iskan.

Dia pun lantas menghubungi mantan Menteri BUMN tersebut untuk melakukan riset titer antibodi dan daya protektifitas.

“Yaitu akhirnya kita ambil, 17 hari setelah disuntik vaksin nusantara tanggal 14 Mei, kalau nggak salah, kemudian tanggal 21 Mei kami ambil serumnya,” ujar Prof Nidom.

Mendapati hasil yang cukup mencengangkan, Prof Nidom menuturkan bisa dibayangkan jika semua vaksin konvensional pada 17 hari setelah vaksinasi tersebut antibodinya tidak muncul apa-apa.

Sehingga pihaknya mencari tahu apakah ini yang menyebabkan daya protektifitasnya meningkat padahal titer antibodinya rata-rata.

(Mel/Rah).