Tradisi Pasola di Sumba NTT, Sejarah Hingga Fakta Menarik yang Belum Diketahui Banyak Orang

Tradisi Pasola di Sumba NTT, Sejarah Hingga Fakta Menarik yang Belum Diketahui Banyak Orang

14 Maret 2022 Off By Redaksi

NESIATIMES.COM – Cerita tentang Sumba Nusa Tenggara Timur tak pernah berkesudahan.

Daerah yang terletak di sisi Selatan Indonesia, tepatnya di Propinsi Nusa Tenggara Timur ini selalu memantik sekaligus memikat hati para wisatawan.

Panorama alamnya yang indah seakan menjadi magnet bagi para wisatawan untuk segera berkunjung ke Pulau Sumba.

Tak hanya suguhan alam yang eksotis dan memesona, senyum ramah para penghuninya pun seakan membuat para wisatawan ingin berlama-lama di tanah Sumba.

Namun, dari sekian banyak menu yang ditawarkan tanah Sumba, ada satu yang menjadi penyempurna yaitu pasola.

Belum sempurna bagi para wisatawan, jika tidak menyaksikan ritual adat pasola saat mengunjungi tanah Sumba.

Pada penasaran kan dengan pasola? Mari kita mengenal lebih dalam.

Ibarat pepatah jika tak kenal, maka tak sayang.

Oleh karena itu, mari kita menyimak sejarah singkat tradisi Pasola dalam buku Sumba Tribe Horse Riding Contest seperti dikutip Senin 14 Maret 2022.

Sejarah Tradisi Pasola

Pasola ternyata memiliki kisah menarik.

Berdasarkan cerita masyarakat, tradisi tersebut tidak lepas dari kisah seorang janda cantik bernama Rabu Kaba di Kampung Waiwuang.

Rabu Kaba merupakan janda Umbu Dulla.

Tak lama kemudian, perempuan cantik itu dinikahi salah satu pemimpin kampung, Umbu Amahu.

Setelah resmi menikah, Rabu Kaba ditinggal sang suami mengembara.

Umbu Amahu tidak sendirian.

Ia ditemani dua pemimpin lainnya, Ngongo Tau Masusu dan Bayang Amahu.

Nahas, ketiga pemimpin nan gagah itu tak kunjung kembali.

Warga setempat pun menganggap mereka telah mati.

Pada waktu bersamaan, Rabu Kaba kembali jatuh cinta.

Kali ini pilihannya adalah seorang pemuda dari Kampung Kodi bernama Teda Gaiparona.

Sayangnya, cinta mereka terhalang adat.

Cinta mereka juga tak direstui oleh kedua keluarga. Arkian mereka memutuskan untuk kawin lari.

Rabu Kaba pergi meninggalkan kampung bersama suami barunya.

Tak lama berselang, keajaiban datang.

Ketiga pemimpin Kampung Waiwuang ternyata kembali. Termasuk suami Rabu Kaba, Umbu Amahu.

Berita kembalinya Umbu Amahu sampai ke telinga Rabu Kaba. Namun, perempuan itu kadung jatuh hati dengan Teda Gaiparona.

Ia pun memutuskan untuk tidak kembali ke dalam pelukan Umbu Amahu.

Mengetahui hal demikian, Umbu Amahu naik pitam. Ia geram. Juga kecewa. Tak menyangka istri tercinta pergi meninggalkannya.

Akhirnya Umbu Amahu memerintahkan warga Waiwuang untuk mengadakan tradisi menangkap nyale (cacing laut) dan Pasola untuk melupakan kesedihan tersebut.

Arti Kata Pasola

Sedangkan kata Pasola itu sendiri berasal dari dua kata yaitu sola dan hola.

Kedua kata tersebut memiliki arti yang sama yaitu lembing kayu yang akan digunakan saat menunggang kuda.

Dimana kayu tersebut berdiameter sekitar 1,5 cm dan tumpul. Lembing-lebing yang berterbangan bisa membuat peserta terluka bahkan kehilangan nyawa.

Dalam tradisi Pasola, mereka yang terluka akan diobati menggunakan air dari tempayan yang sudah disakralkan oleh Rato.

Dulu, menurut warga Desa Wainyapu, banyak korban tewas dalam gelaran Pasola.

Meski sejak berpuluh-puluh tahun belakangan, belum ada lagi kejadian ritual Pasola yang berujung maut.

Meski demikian, para peserta masih sering mengalami cedera parah saat bermain Pasola. Semisal, saat lembing yang digunakan mengenai bagian tubuh seperti mata, dan lain-lain.

Meski berisiko menyebabkan cedera dan kematian, peserta Pasola tidak akan dipersalahkan akibat perbuatannya. Begitu ritual Pasola selesai, tak boleh ada dendam di antara peserta.

Persiapan Sebelum Pelaksanaan Pasola

Sebelum tradisi Pasola berlangsung, segala persiapan dilakukan oleh para Rato Merapu (Ketua Adat), Rato Nale (Nyale) dan juga masyarakat setempat.

Berbagai persiapan tersebut antara lain: kembali ke kampung halaman atau mudik, membersihkan kampung, kuburan leluhur, arena atau lapangan Pasola, membersihkan pesisir pantai, dan menyiapkan kuda serta alat-alat yang digunakan saat pelaksanaan Pasola.

Persiapan tersebut termasuk di dalamnya adalah penentuan tanggal pelaksanaan Pasola.

Penentuan tanggal ini biasanya dilakukan oleh seorang Rato.

Sebulan sebelum pelaksaan Pasola, Rato melaksanakan kabukkut atau semedi guna melihat waktu yang tepat untuk pelaksaan Pasola.

Pada saat melaksanakan kabukkut, Rato tidak boleh melakukan beberapa hal, antara lain: keluar dari rumah kediaman, berjalan di sekitar kampung dan tidak boleh berbicara dengan orang-orang di sekitar, kecuali orang yang hidup dan tinggal bersamanya yakni istri dan anak-anak dari Rato serta orang-orang terdekat.

Kabukkut atau semedi tersebut dimaksudkan agar Rato benar-benar fokus untuk melihat kapan waktu yang tepat untuk pelaksanaan Pasola.

Biasanya Rato akan melihat perubahan alam, salah satunya ialah munculnya tunas-tunas baru dari tumbuhan dan menghitung 7 hari 7 malam gelap, dan di hari ketujuh, masyarakat setempat akan memungut nyale (cacing) bersamaan dengan dilaksanakan Pasola.

Jadi, waktu yang tepat pelaksanaan Pasola yaitu pada bulan Februari dan Maret.

Makna Ritual Pasola

Ritual Pasola meskipun berbahaya, tetapi terus diwariskan dan menjadi kebudayaan dalam diri masyarakat Sumba.

Hal ini bukan tanpa alasan. Masyarakat Sumba meyakini bahwa terdapat beberapa makna dalam ritual tersebut.

Makna tersebut terangkum dalam lima nilai yang terkandung dalam ritual Pasola.

Pertama, ritual Pasola merupakan bentuk penghormatan terhadap para leluhur yang sudah meninggal, sebagaimana kepercayaan yang mereka anut yaitu marapu.

Selama pelaksanaan Pasola, jika terjadi pertumpahan darah di arena permainan, melambangkan berkat yang melimpah dari sang pencipta untuk kesuburan tanah panenan dan tempat yang mereka diami.

Kedua, makna simbolik yang dilihat dalam nyale (cacing).

Nyale bukan hanya sekedar cacing, tetapi juga sebagai sumber makanan, kesuburan, dan menggambarkan hasil panen dari masyarakat setempat.

Ketiga, tradisi Pasola mengandung nilai persaudaraan. Hal ini bukan hanya terjadi pada anggota satu tim, tetapi juga keseluruhan masyarakat Sumba.

Keempat, tradisi Pasola membuat masyarakat sempat daapt bersilahturahmi satu sama lain dan juga menjadi kesempatan bagi warga diaspora Sumba untuk kembali ke Sumba.

Kelima, nilai ekonomi yang tercermin dalam kegiatan menual makanan dan minuman.

Selain itu, para penjual juga dapat memperkenalkan barang-barang khas masyarakat setempat berupa anyaman tikar, kain dan sarung, serta pernak-pernik khas masyarakat Sumba.

Editor: Steven

Penulis Epin Solanta